Sabtu, 18 Mei 2019

Masyarakat Perkotaan dan Masyarakat Pedesaan


A. Masyarakat Pedesaan
Masyarakat pedesaan selalu memiliki ciri-ciri atau dalam hidup bermasyarakat, yang biasanya tampak dalam perilaku keseharian mereka. Pada situasi dan kondisi tertentu, sebagian karakteristik dapat digeneralisasikan pada kehidupan masyarakat desa di Jawa. Namun demikian, dengan adanya perubahan sosial religius dan perkembangan era informasi dan teknologi, terkadang sebagian karakteristik tersebut sudah “tidak berlaku”. Masyarakat pedesaan juga ditandai dengan pemilikan ikatan perasaan batin yang kuat sesama warga desa, yaitu perasaan setiap warga/anggota masyarakat yagn amat kuat yang hakekatnya, bahwa seseorang merasa merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat dimanapun ia hidup dicintainya serta mempunyai perasaan bersedia untuk berkorban setiap waktu demi masyarakatnya atau anggota-anggota masyarakat, karena beranggapan sama-sama sebgai masyarakat yang saling mencintai saling menghormati, mempunyai hak tanggung jawab yang sama terhadap keselamatan dan kebahagiaan bersama di dalam masyarakat.
Adapun yang menjadi ciri masyarakat desa antara lain :
1.      Didalam masyarakat pedesaan di antara warganya mempunyai hubungan yang lebih mendalam dan erat bila dibandingkan dengan masyarakat pedesaan lainnya di luar batas wilayahnya.
2.      Sistem kehidupan umumnya berkelompok dengan dasar kekeluargaan
3.      Sebagian besar warga masyarakat pedesaan hidup dari pertanian
4.      Masyarakat tersebut homogen, deperti dalam hal mata pencaharian, agama, adapt istiadat, dan sebagainya
Didalam masyarakat pedesaan kita mengenal berbagai macam gejala, khususnya tentang perbedaan pendapat atau paham yang sebenarnya hal ini merupakan sebab-sebab bahwa di dalam masyarakat pedesaan penuh dengan ketegangan –ketegangan sosial. Gejala-gejala sosial yang sering diistilahkan dengan :
–          konflik
–          kontraversi
–          kompetisi
B. Masyarakat Perkotaan
Masyarakat perkotaan sering disebut urban community . Pengertian masyarakat kota lebih ditekankan pada sifat kehidupannya serta cirri-ciri kehidupannya yang berbeda dengan masyarakat pedesaan. Ada beberap ciri yang menonjol pada masyarakat kota yaitu :
1.      kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan kehidupan keagamaan di desa
2.      orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain. Yang penting disini adalah manusia perorangan atau individu. Di kota – kota kehidupan keluarga sering sukar untuk disatukan , sebab perbedaan kepentingan paham politik , perbedaan agama dan sebagainya .
3.      Jalan pikiran rasional yang pada umumnya dianut masyarakat perkotaan , menyebabkan bahwa interaksi – interaksi yang terjadi lebih didasarkan pada factor kepentingan daripada factor pribadi.
4.      pembagian kerja di antra warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata
5.      kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota dari pada warga desa
6.      interaksi yang terjai lebih banyak terjadi berdasarkan pada factor kepentingan daripaa factor pribadi
7.      pembagian waktu yang lebih teliti dan sangat penting, untuk dapat mengejar kebutuhan individu
8.      perubahan-perubahan sosial tampak dengan nyata di kota-kota, sebab kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh dari luar.

C. JADI MASYARAKAT kota ATAU MASYARAKAT DESA
Kalau disuruh memilih saya rasa saya lebih suka menjadi masyarakat  kota, karena di kota fasilitasnya lebih lengkap daripada di desa. Bagi orang yang sudah  lama tinggal di kota, tinggal di  desa akan menjadi sangat sulit.  
Di kota kita mudah jika ingin berpergian jauh, karena banyak pilihan transportasi , lalu jika sedang bosan kita bisa berpergian ke banyak tempat yang menarik. Dan banyak lagi hal di kota yang belum tentu bisa kita lakukan di desa .

KESAMAAN DERAJAT DAN PELAPISAN SOSIAL



A. Pelapisan Sosial
1. pengertian pelapisan sosial
Pelapisan sosial atau stratifikasi sosial (social stratification) adalah pembedaan atau pengelompokan para anggota masyarakat secara vertikal (bertingkat). Pelapisan sosial merupakan gejala yang bersifat keseluruhan . Di dalam masyarakat mana pun, pelapisan sosial selalu ada.

2. Dasar-Dasar Pembentukan Pelapisan Sosial
Ukuran atau kriteria yang menonjol atau dominan sebagai dasar pembentukan pelapisan sosial adalah sebagai berikut.

a.      Ukuran Kekayaan
Kekayaan (materi atau kebendaan) dapat dijadikan ukuran penempatan anggota masyarakat ke dalam lapisan-lapisan sosial yang ada, barang siapa memiliki kekayaan paling banyak mana ia akan termasuk lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial, demikian pula sebaliknya, yang tidak mempunyai kekayaan akan digolongkan ke dalam lapisan yang rendah. Kekayaan tersebut dapat dilihat antara lain pada bentuk tempat tinggal, benda-benda tersier yang dimilikinya, cara berpakaiannya, maupun kebiasaannya dalam berbelanja,serta kemampuannya dalam berbagi kepada sesame

b.      Ukuran Kekuasaan dan Wewenang
Seseorang yang mempunyai kekuasaan atau wewenang paling besar akan menempati lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial dalam masyarakat yang bersangkutan. Ukuran kekuasaan sering tidak lepas dari ukuran kekayaan, sebab orang yang kaya dalam masyarakat biasanya dapat menguasai orang-orang lain yang tidak kaya, atau sebaliknya, kekuasaan dan wewenang dapat mendatangkan kekayaan.

c.       Ukuran Kehormatan
Ukuran kehormatan dapat terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan atau kekuasaan. Orang-orang yang disegani atau dihormati akan menempati lapisan atas dari sistem pelapisan sosial masyarakatnya. Ukuran kehormatan ini sangat terasa pada masyarakat tradisional, biasanya mereka sangat menghormati orang-orang yang banyak jasanya kepada masyarakat, para orang tua ataupun orang-orang yang berprilaku dan berbudi luhur.

d.      Ukuran Ilmu Pengetahuan
Ukuran ilmu pengetahuan sering dipakai oleh anggota-anggota masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Seseorang yang paling menguasai ilmu pengetahuan akan menempati lapisan tinggi dalam sistem pelapisan sosial masyarakat yang bersangkutan. Penguasaan ilmu pengetahuan ini biasanya terdapat dalam gelar-gelar akademik (kesarjanaan), atau profesi yang disandang oleh seseorang, misalnya dokter, insinyur, doktorandus, doktor ataupun gelar profesional seperti profesor. Namun sering timbul akibat-akibat negatif dari kondisi ini jika gelar-gelar yang disandang tersebut lebih dinilai tinggi daripada ilmu yang dikuasainya, sehingga banyak orang yang berusaha dengan cara-cara yang tidak benar untuk memperoleh gelar kesarjanaan, misalnya dengan membeli skripsi, menyuap, ijazah palsu dan seterusnya.

B. Kesamaan Derajat
Hubungan antara manusia dan lingkungan masyarakat pada umumya terjadi secara timbal balik. Artinya, setiap orang sebagai anggota masyarakat, mempunyai hak dan kewajiban, baik tehadap masyarakat maupun pemerintah negara. Beberapa hak dan kewajiban ditetapkan dalam undang-undang sebagai hak dan kewajiban asasi. Kesamaan derajat ini terwujud dalam jaminan hak yang diberikan dalam berbagai sektor kehidupan. Hak inilah yang banyak dikenal dengan hak asasi manusia.
Persamaan derajat adalah persamaan yang dimiliki oleh diri pribadi kepada diri orang lain ataupun masyarakat, biasanya persamaan derajat itu dapat dinyatakan dengan HAM (Hak Asasi Manusia) yang telah diatur dalam UUD 45 pasal 1, pasal 2 ayat 1, pasal 7 tentang persamaan hak.

1. Persamaan Hak
Adanya kekuasaan negara seolah-olah hak individu dirasakan sebagai sesuatu yang mengganggu,karena dimana kekuasaan itu berkembang, terpaksalah ia memasuki lingkungan hak manusia pribadi dan berkuranglah batas yang dimiliki hak-hak pribadi yang dimiliki itu.

2. Persamaan derajat di Indonesia
Persamaan derajat adalah persamaan nilai, harga taraf yang membedakan makhluk yang satu dengan makhluk yang lainnya. Harkat manusia adalah nilai manusia sebagai makhluk tuhan yang dibekali cipta, rasa, karsa dan hak-hak serta kewajiban asasi manusia. Martabat adalah tingkatan harkat kemanusiaan dan kedudukan yang terhormat.sedangkan kesamaan derajat adalah tingkatan, martabat dan kedudukan manusia sebagai makhluk tuhan yang memiliki kemampuan kodrat,hak dan kewajiban.


C.Sumber Pustaka
·         http://id.wikipedia.org
·         http://raullycious.wordpress.com
·         http://oeebudhi.blogspot.com

Kamis, 11 April 2019

Peran yang Dapat Kita Lakukan Kepada Bangsa dan Negara


Sebagai  rakyat Indonesia yang baik ,kita seharusnya turut ikut berperan untuk perkembangan bangsa dan Negara,  banyak peran yg dapat kita lakukan kepada bangsa dan Negara, kita tidak harus menjadi pejabat untuk bisa berperan kepada bangsa , tetapi sebagai masyarakat sipil pun kita harus bisa juga ikut  turut berperan.  Apalagi sebagai generasi muda, massa depan bangsa ada ditangan kita. Contoh peran yang dapat kita lakukan sebagai generasi muda antara lain :

Agent of Change
Peran pemuda sebagai generasi penerus bangsa Indonesia yang pertama dapat dilihat dari peran pemuda sebagai agent of change atau agen perubahan. Artinya bahwa pemuda Indonesia sebenarnya memiliki peranan untuk menjadi pusat dari kemajuan bangsa Indonesia itu sendiri. Dalam hal ini dapat dilakukan melalui pengadaan perubahan-perubahan dalam lingkungan masyarakat, baik secara nasional maupun daerah, menuju kepada arah yang lebih baik lagi pada masa yang akan datang.

Hal ini pula yang menjadi alasan mengapa ada pernyataan seperti peran pemuda sebagai generasi penerus bangsa, karena yang menentukan kemajuan bangsa Indonesia dimasa depan adalah para generasi mudanya melalui keberhasilan perubahan-perubahan positif yang dapat dilakukan. Memang berbagai macam tantangan pastinya akan dihadapi atau dialami oleh para generasi muda, tetapi setidaknya para pemuda dapat kembali menengok pada makna sumpah pemuda atau pun makna kemerdekaan Indonesia.

Dimana segala tantangan yang ada akan dapat dihadapi jika perbedaan-perbedaan yang ada dapat dihadapi dengan positif dan dilakukan secara bersama-sama yang juga sesuai dengan asas Bhinneka Tunggal Ika. Seperti melalui upaya saling memotivasi dan mendorong adanya kemajuan pada masyarakat. Salah satu kunci agar dapat sukses menjadi agent of change pastinya adalah keyakinan yang dimiliki para pemuda, maksudnya adalah para generasi muda harus yakin akan apa yang mereka miliki dan selalu melakukannya dengan baik dan benar.

Agent of Developmet
Selain menjadi agen perubahan, peran pemuda juga sebagai agent of development atau agen pembangunan sebagai penerus bangsa. Artinya bahwa para pemuda Indonesia memiliki peran dan tanggung jawab dalam upaya melancarkan atau melaksanakan berbagai macam pembangunan di berbagai macam bidang, baik pembangunan nasional maupun pembangunan daerah.

Mengapa agen pembangunan juga menjadi suatu peran penting pemuda sebagai penerus bangsa? Hal ini disebabkan karena para pemuda Indonesia wajib menjaga eksistensi bangsa Indonesia di kancah dunia, serta selalu dapat memberikan kesan yang baik di mata dunia. Sebagai contoh seperti mengembangkan bidang kebudayaan daerah Indonesia, kemudian memperkenalkannya pada dunia internasional.

Bahkan agen pembangunan disini bukan hanya sebatas pembangunan fisik maupun non fisik secara nasional dan daerah saja, tetapi juga menyangkut mengenai kemampuan pengembangan potensi generasi muda lainnya. Artinya adalah diperlukan adanya upaya bagaimana potensi dan produktifitas yang ada di diri para generasi muda dapat dikembangkan secara bersama-sama demi mencapai tujuan pembangunan bangsa Indonesia dimana sekarang maupun dimasa yang akan datang.

Agent of Modernizations
Peran yang selanjutnya adalah menjadi agent of modernization atau agen pembaharuan bangsa Indonesia. Artinya bahwa para pemuda Indonesia wajib memiliki kemampuan dalam menganalisa perubahan zaman yang pastinya memberi pengaruh besar pada bangsa Indonesia, sehingga mereka dapat memilih mana yang memang perlu untuk dirubah dan juga mana yang seharusnya dipertahankan.

Sebagai contoh seperti perkembangan teknologi yang semakin maju di berbagai bidang, dimana melalui aktivitas pemuda pula bangsa Indonesia kemudian dapat menyesuaikan diri dengan perubahan teknologi yang semakin maju, sehingga tidak menjadi suatu bangsa yang tertinggal. Namun dengan adanya perkembangan teknologi yang semakin maju dan modern juga menjadikan segala pengaruh bahkan kebudayaan asing masuk lebih mudah, maka disinilah muncul tantangan bagi pemuda Indonesia untuk tetap dapat mempertahankan identitas bangsa Indonesia.

Membangun Pendidikan
Pendidikan merupakan suatu pondasi dari berbagai peranan diatas, tanpa adanya pendidikan yang kuat maka para pemuda Indonesia pastinya akan merasakan kesusahan dalam menjalankan peran mereka sebagai generasi penerus bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, wajib berpendidikan juga penting untuk ditanamkan pada generasi muda bangsa Indonesia.

Beberapa peran pemuda dalam membangun pendidikan di Indonesia juga dapat dilihat dari adanya banyak tenaga pendidik yang masih tergolong muda dan semangat memberikan pendidikan yang bermutu pada generasi penerusnya. Belum lagi banyak pula kegiatan-kegiatan pemuda Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan terutama pada daerah-daerah terpencil di pulau-pulau yang tersebar diseluruh pelosok bangsa Indonesia. Kondisi tersebut juga sudah termasuk dalam upaya para pemuda Indonesia sebagai generasi penerus bangsa dalam usahanya membangun pendidikan yang lebih baik lagi dari masa-masa sebelumnya.


Memiliki Semangat Juang yang Tinggi
Peran pemuda sebagai generasi penerus bangsa yang terakhir adalah tertanam nya jiwa semangat perjuangan yang tinggi pada generasi muda baik pada masa sekarang maupun masa terdahulu. Hal yang dapat dilakukan adalah seperti selalu berusaha sebaik mungkin untuk dapat mencapai prestasi yang membanggakan bangsa Indonesia di mata dunia, menghilangkan jiwa mudah menyerah, menjaga kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia, dan lain sebagainya. Terlebih lagi semangat pemuda dalam usahanya mencapai tujuan pembangunan nasional, seperti dengan menyampaikan ide-ide pembangunan yang baru maupun keinginan untuk terjun langsung dalam pembangunan bangsa Indonesia. Walaupun kegagalan sering dialami oleh para pemuda Indonesia, tetapi perlu diingat kembali untuk tidak mudah menyerah karena sebenarnya kegagalan merupakan suatu awal dari kebangkitan dan juga kesuksesan. Tidak lupa pula, semangat yang tinggi ini juga dapat diraih dengan terus menerapkan makna sumpah pemuda dan juga makna kemerdekaan Indonesia.


Sumber : https://guruppkn.com/peran-pemuda-sebagai-generasi-penerus-bangsa

Sifat yang Harus di Ubah oleh Generasi Muda Saat Ini

Generasi muda pada saat ini merupakan generasi milenial,yaitu generasi anak muda yang lahir dalam rentang tahun 1980-an sampai 2000. Sehingga boleh dikatakan orang yang berada di usia 15-34 tahun merupakan generasi millennial yang dianggap mengalami transformasi life style drastis, terutama sejak berkembangnya teknologi digital yang semakin pesat.
Salah satu karakter yang paling kentara dari generasi ini adalah daya konsumtif yang tinggi yang disebabkan pergeseran gaya hidup yang signifikan. Banyak sifat buruk generasi milenial   yang harus diubah antara lain :
1. Maunya serba yang praktis dan langsung jadi
Adanya pemanfaatan teknologi digital yang semakin pesat membuat para millennial lebih memilih sesuatu yang serba instan. Millennial pada hakikatnya tidak mau ambil pusing berbagai hal yang mungkin perlu dipertimbangkan. Pemikirannya serba cepat dan kadang mengabaikan pendapat yang diberikan orangtua. Seperti contoh kecilnya ketika ingin membuka usaha dan memulai karier sebagai seorang digital entrepeneur muda.
Banyak aspek yang perlu dipertimbangkan dan dalam hal ini orangtua yang berperan sebagai penanam modal juga akan memberikan masukan. Para millennial perlu belajar bahwa membuka usaha itu tidak semudah yang terlihat di berbagai produk iklan di social media yang tampak menggiurkan buat dilakoni. Kadang restu orangtua lah yang paling dibutuhkan dalam hal ini.
2. Kesopanan dan rasa hormat yang mulai meluntur
Nilai moral pada generasi millennial mulai memudar karena pesatnya arus informasi yang menyugesti mereka ke arah pemikiran liberal. Karakteristik mereka yang cenderung bebas dan punya pemikiran sendiri ini seringkali membuat para orangtua gundah. Meski gak secara langsung diungkapkan, orangtua sebenarnya takut jika anaknya memiliki pemikiran bebas dan kesopanan yang mulai meluntur.
Bukan hanya dengan mereka tetapi juga orang lain yang lebih tua seperti guru di sekolah. Para millennial sepertinya perlu lebih dekat dengan orangtua dan tetap memperhatikan nilai dasar yang sudah ditanamkan keluarga.
3. Alergi dengan pekerjaan rumah
Millennial rata-rata memiliki waktu yang boros untuk berada di depan PCsmartphone tablet, dan televisi setiap harinya. Tercatat bahwa angka tersebut meningkat 17 kali per jam dari generasi sebelumnya. Hal ini juga jadi penyebab kenapa para millennial alergi buat melakukan pekerjaan rumah seperti sekadar membantu mencuci atau membersihkan rumah.
Seringkali mereka bakal mencari alasan yang beragam saat dimintai bantuan Ibu, ada yang menunda dan bilang masih membalas chat atau melanjutnya streaming video di youtube. Kamu juga gak nih?
4. Apatis terhadap dunia nyata, termasuk interaksi keluarga
Bukan hanya kepekaan dan gaya interaksi di dunia nyata yang mulai berkurang, tapi juga komunikasi di lingkungan rumah, keluarga, ataupun tetangga yang makin diabaikan. Para millennial boleh jadi punya ratusan teman dan ribuan followers di instagram, tapi siapa yang tahu jika teman mereka di dunia nyata cuma bisa dihitung jari. Hal ini juga salah satu perilaku yang membuat resah orangtua karena tahu bahwa anaknya kurang bisa bersosialisasi di dunia nyata.
5. Lebih mendengarkan komentar orang lain daripada arahan orangtua
Untuk mendapatkan personal branding yang diinginkan, para millennial selalu terpacu buat menuai komentar atau review positif dari orang lain. Jika personality yang dimiliki mereka tidak kuat, bukan tidak mungkin social media pressure atau stress karena komentar negatif di media sosial akan membuat mereka depresi. Dalam hal ini, terkadang para millennial mengabaikan arahan orangtua sehingga hal buruk seperti ini kerap terjadi.

Sumber : https://www.idntimes.com/life/family/fajar-laksmita-dewi/7-sifat-millennial-yang-bikin-resah-orangtua/full

Kamis, 28 Maret 2019

MENDESKRIPSIKAN DIRI SENDIRI SEBAGAI INDIVIDU, DALAM KELUARGA, LINGKUNGAN TEMPAT TINGGAL DAN LINGKUNGAN KAMPUS


*Sebagai Individu
Sebagai individu saya merupakan seseorang yang sedikit apatis, tidak suka memperhatikan lingkungan sekitar, pendiam, pemalu. Dan juga saya tidak terlalu suka berada di tempat ramai, jika saya berada di di keramaian saya merasa kurang nyaman, akibatnya saya lebih suka berada dirumah.



*Dalam Keluarga
                 Keluarga adalah suatu hal yg paling penting buat saya, tidak ada yg lebih penting dari keluarga . oleh sebab itu , Di dalam keluarga, saya selalu menghormati orang tua saya. Jika saya diberi tugas oleh orang tua pasti saya langsung melakasanakannya. Hubungan saya dengan kakak dan adik saya juga baik kami selalu saling membantu satu sama lain.



*Dalam Lingkungan Tempat Tinggal
Dalam lingkungan tempat tinggal  ketika saya kecil mungkin saya sering keluar untuk bermain dengan teman sekitar rumah saya, namun ketika menginjak remaja saya kurang bersosialisasi dengan lingkungan sekitar karena lingkungan sekitar tempat tinggal pergaulannya kurang baik. Banyak pemuda sebaya saya yang putus sekolah dan pengguna narkoba, saya melihat hal itu  terjadi karena orang tua yg tidak memperhatikan anaknya.



* Dalam Lingkungan Kampus
Dalam lingkungan kampus saya tidak terlalu banyak memiliki teman, namun saya selalu berusaha membina hubungan yg baik dengan teman-teman yang saya kenal  di lingkungan kampus.


Rabu, 27 Maret 2019

URBANISASI DI INDONESIA


MAKALAH
ILMU SOSIAL DASAR

“ URBANISASI DI INDONESIA ”




Disusun Oleh :
Ivan Rezki Sahdani Loi (33418435)





KELAS 1ID01
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
Mata Kuliah : Ilmu Sosial Dasar
Dosen : Ratna Susilowati

BAB I
PENDAHULUAN

I.                   Latar Belakang
Urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota. Urbanisasi adalah masalah yang cukup serius bagi kita semua. Persebaran penduduk yang tidak merata antara desa dengan kota akan menimbulkan berbagai permasalahan kehidupan sosial kemasyarakatan. Jumlah peningkatan penduduk kota yang signifikan tanpa didukung dan diimbangi dengan jumlah lapangan pekerjaan, fasilitas umum, aparat penegak hukum, perumahan, penyediaan pangan, dan lain sebagainya tentu adalah suatu masalah yang harus segera dicarikan jalan keluarnya.
II.                Rumusan Masalah
1.      Apa penyebab terjadinya urbanisasi ?
2.      Apa dampak positif dan negatif dari terjadinya urbanisasi ?
3.      Apa yang harus dilakukan untuk mencegah terjadinya urbanisasi yang melonjak ?

BAB II
ISI

2.1 Penyebab Terjadinya Urbanisasi
Penyebab terjadinya urbanisasi  di Indonesia sangatlah beragam , akan tetapi  pada umumnya urbanisasi  di Indonesia terjadi  karena kurangnya lapangan pekerjaan di desa, sehingga mendorong masyarakat desa  pergi ke kota untuk mencoba peruntungan.
2.2 Dampak Positif dan Negatif dari Urbanisasi
Adapun dampak atau akibat terjadinya urbanisasi bagi daerah yang ditinggalkan (desa), diantaranya:
Dampak Positif:
·         Dapat mendorong kemajuan dan pembangunan desa karena penduduk sudah mengetahui kemajuan di kota
·         Dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui uang hasil keluarga yang bekerja di kota
·         Dapat mengurangi jumlah penduduk, jika desa memiliki penduduk yang padat
·         Dapat mengurangi jumlah pengangguran di desa.
Dampak Negatif:
Tenaga kerja di desa berkurang, khususnya pengelola pertanian
Produksi pertanian menurun, karena tenaga kerja banyak pindah ke kota
Desa kehilangan penduduk atau tenaga kerja yang berkualitas.
Dampak Bagi Daerah Yang Di Datangi
Adapun dampak atau akibat terjadinya urbanisasi bagi daerah yang didatangi (kota), yaitu:

Dampak Positif:
·         Tenaga kerja dapat terpenuhi
·         Semakin banyak sumber daya manusia yang berkualitas
·         Upah kerja relatif murah
·         Dapat mempercepat pembangunan kota
Dampak Negatif:
·         Kepadatan penduduk akan semakin meningkat yang akan berakibat pada lahan tempat tinggal semakin sempit dan akan banyak muncul pemukiman liar
·         Jumlah pengangguran akan semakin meningkat karena jumlah penduduknya yang juga meningkat.
·         Dapat menyebabkan permasalah sosial yang lebih meningkat

2.3 Cara Mengurangi Urbanisasi
Upaya pemerintah untuk mencegah atau mengurangi terjadinya urbanisasi antara lain sebagai berikut :
  • Melaksanakan pembangunan secara desentralisasi, yaitu pembangunan yang merata atau menyebar berpusat pada daerah-daerah, misalnya pembangunan di Indonesia berpusat pada empat kota. seperti Medan, Jakarta, Surabaya, Ujung Pandang. Masing-masing daerah akan mengembangkan daerah sekitarnya contohnya, untuk daerah Jakarta dikenal dengan istilah Jabotabek, di Surabaya dikenal dengan istilah Gerbangkertasusila. Dengan demikian, penduduk desa yang ingin mencari pekerjaan tidak perlu ke kota besar.
  • Mengadakan modernisasi desa dengan program pembangunan.
  • Memperbanyak fasilitas yang dibutuhkan oleh masyarakat pedesaan, seperti fasilitas kesehatan, sekolah, tempat hiburan, dan transportasi.
  • Mengendalikan pertumbuhan penduduk di pedesaan melalui program keluarga berencana.
  • Meningkatkan perekonomian rakyat pedesaan, antara lain membangun irigasi, menggiatkan koperasi unit desa atau KUD
  • Meningkatkan keamanan di pedesaan dengan lehih mengaktifkan sistem keamanan lingkungan atau siskamling.
  • Mengeluarkan peraturan untuk mempersulit perpindahan penduduk desa ke kota, misalnya izin pindah ke kota sulit, Jakarta dinyatakan tertutup bagi pendatang baru.
Usaha-usaha untuk mengatasi akibat urbanisasi di kota besar sebagai berikut :
  • Menertibkan pemukiman kumuh, pembuangan sampah, dan air limbah.
  • Mengadakan penghijauan kota, yaitu mengadakan jalur hijau dan taman kota.
  • Memperluas pemukiman dengan membangun kota satelit, yaitu kota kecil di sekitar kota besar.
  • Menambah perumahan rakyat dengan membangun rumah murah, yaitu rumah susun, menambah sarana angkutan, jaringan listrik, air minum, dan  sebagainya.
  • Menciptakan kutub pertumbuhan baru.


BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Urbanisasi banyak menyebabkan dampak negative jika tidak dikendalikan dengan baik. Dan inilah yang terjadi di Indonesia sekarang ini. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya jumlah penduduk desa yang pergi ke kota, mengakibatkan jumlah penduduk di kota  terus meningkat.



KONDISI KEBUDAYAAN DI INDONESIA


MAKALAH
ILMU SOSIAL DASAR

“KONDISI KEBUDAYAAN DI INDONESIA”





Disusun Oleh :
Ivan Rezki Sahdani Loi (33418435)



KELAS 1ID01
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
Mata Kuliah : Ilmu Sosial Dasar
Dosen : Ratna Susilowati



BAB I
PENDAHULUAN

I.                   Latar Belakang
Kata budaya berasal dari bahasa Sansekerta budhayah,yaitu bentuk jamak dari budhi yang berarti budi atau akal.Dengan demikian,kebudayaan diartikan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan budi atau akal. Kata kebudayaan dalam bahasa Inggris diterjemahkan dengan istilah culture dan dalam bahasa Belanda disebut cultuur. Kedua bahasa ini berasal dari bahasa latin  yang colere berarti mengolah,mengerjakan ,menyuburkan dan mengembangkan tanah(bertani) .dengan demikian culture atau cultuur berarti sebagai segala hal daya dan kegiatan manusia untuk mengolah dan mengubah alam.
Selo Soemarjdjan dan Soelaeman Soemardi merumuskan kebudayaan sebagai semua hasil karya rasa dan cipta masyarakat.
Budaya Indonesia , seperti yang kita ketahui Indonesia memiliki budaya yang sangat banyak dan beragam. Tetapi banyak kebudayaan-kebudayaan di Indonesia yg hampir punah. Hal ini disebabkan oleh berbagai hal, salah satunya yaitu pengaruh globalisai dan perkembangan teknologi. Globalisasi dan perkembangan teknologi menyebabkan masyarakat Indonesia kurang tertarik kepada budaya sendiri dan malah tertarik dengan kebudayaan luar yg belum tentu sesuai dengan masyarakat Indonesia.

II . Rumusan Masalah
1. Masih diterapkankah kebudayaan di Indonesia ?
2. Apa contoh kebudayaan yg masih diterapkan di Indonesia?
3. Apa yang harus kita sikapi terhadap kebudayaan Indonesia ?



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Masih diterapkankah kebudayaan di Indonesia ?
 Masih , tetapi banyak diterapkan didaerah  perdesaan saja, kalau didaerah perkotaan sudah jarang karena di kota  terdiri dari berbagai suku dan budaya sehingga susah untuk di diterapkan.paling kalau di kota yang masih diterapkan yaitu budaya yg bersifat norma masyarakat. Di kota juga banyak terjadi adopsi budaya luar yg kebarat-baratan akibat dari pengaruh globalisasi dan perkembangan teknologi.
                                                            
2.2  Contoh kebudayaan yg masih diterapkan di Indonesia
Ada beberapa kebudayaan yg masih diterapkan di Indonesia antara lain yaitu ;
1. Sunatan di Aceh
Bagi masyarakat urban, sunatan buat anak biasanya digelar secara sederhana. Pagi anak diantar ke rumah sakit untuk dikhitan, sorenya bikin syukuran dan bagi-bagi makanan di lingkungan rumah lalu sudah. 
Tapi buat masyarakat yang masih memegang teguh tradisi, sunatan dilakukan dengan prosesi yang panjang dan membutuhkan biaya yang tak sedikit. Contohnya tradisi sunatan di Aceh yang prosesinya dimulai tiga hari sebelum si anak disunat.
Di Aceh, walah hanya satu anak yang sunatan, seluruh warga desa bergerak. Prosesi sunatan di Aceh full aturan adat dari konsep pakaian hingga makanan.Walhasil, biaya penyelenggaraannya pun cukup besar.

2. Mitoni
Mitoni adalah upacara mempersiapkan kelahiran bayi saat usia kehamilan 7 bulan. Upacara adat Jawa ini lekat dengan budaya Islam.
Jika diselenggarakan dengan adat Jawa utuh, prosesi mitoni membutuhkan seharian penuh dan biaya yang relatif besar. Upacara ini mirip-mirip dengan pernikahan Jawa, ada sungkeman dan siraman. Keluarga yang menggelar upacara ini juga harus mengundang tetangga dan kenalan untuk ikut mendoakan si jabang bayi.

3. Rambu Solo
Jangan salah ya, rambu solo yang satu ini bukan rambu lalu lintas dari Kota Solo.
Tradisi mengantar kepergian jenazah di Toraja ini menjadi daya tarik wisata Sulawesi. Sebab, upacaranya digelar secara rumit tapi menarik.
Rambu Solo wajib digelar masyarakat asli Toraja. Jika salah seorang keluarga meninggal tapi belum digelar Rambu Solo, jenzahnya akan diperlakukan seperti orang sakit. Dia bakal diberi makan-minum, ditidurkan di ranjang, dan bahkan diajak mengobrol.
Saking besarnya biaya Rambu Solo, banyak warga Toraja yang harus menunggu hingga berminggu-minggu bahkan bertahun-tahun untuk melaksanakannya. Sebab, mereka harus mengumpulkan uang dulu sampai cukup untuk membayar seluruh prosesi yang bisa mencaapai ratusan juta rupiah.

4. Tiwah
Tiwah mirip-mirip ama rambu solo. Sekali bikin acara tiwah, rencana nikah bisa-bisa ditunda sampai bertahun-tahun karena biaya abis buat tiwah .
Sementara Toraja punya Rambu Solo, warga Dayak di Kalimantan punya Tiwah. Tradisi ini digelar untuk menyucikan jiwa orang yang telah meninggal agar diterima di surga.
Sama seperti masyarakat Toraja, komunitas Dayak juga harus menabung lama untuk menyelenggarakan tradisi yang digelar non-stop selama sebulan ini. Biaya untuk menyelenggarakan Tiwah puluhan hingga ratusan juta rupiah. Tapi biasanya warga setempat ikut mengumpulkan sumbangan bagi keluarga yang akan menyelenggarakannya.

5. Ngaben
Ngaben jadi daya tarik wisatawan asing di Bali. Kalau ada tiketnya bisa balik modal kali ya. hehehe
Ngaben adalah tradisi pembakaran jenazah di Bali. Tradisi di Indonesia yang masih dilestarikan ini bisa menyedot dana puluhan hingga ratusan juta rupiah.
Dulu Ngaben digelar secara perseorangan. Artinya bila seorang anggota keluarga meninggal, maka keluarganya akan menggelar Ngaben agar jiwanya tenang. Tapi sekarang warga Bali lebih sering menyelenggarakan Ngaben secara bersama-sama.

Sebab, biaya penyelenggaraan bisa ditanggung bersama. Sementara menanti barengan, jenazah keluarga tersebut akan dikubur atau disimpan di dalam rumah hingga Ngaben tiba.
Tradisi-tradisi itu memang terbilang mahal, tapi sebisa mungkin dilestarikan. Sebab tradisi itu menjadi kebanggaan Indonesia dan anak-cucu harus tahu bahwa negeri kita kaya dan membanggakan.
Soal biaya pasti ada jalan keluar. Dalam tradisi di atas disebutkan contoh langkah penghematan, seperti menggelar bersama atau menabung dulu.
Jika mungkin, pemerintah bisa dimintai bantuan. Pasalnya, penyelenggaraan tradisi itu juga bermanfaat buat pemerintah, terutama dalam hal industri wisata.


2.3  Apa yang harus kita sikapi terhadap kebudayaan Indonesia ?       
Salah satu cara yang tepat untuk mengisi kemerdekaan bagi para generasi penerus adalah dengan melestarikan kebudayaan bangsa dengan cara mempelajarinya. Kebudayaan bangsa merupakan warisan leluhur yang mengandung nilai-nilai luhur cerminan dari kehidupan manusia dan masyarakat.

Sebuah masyarakat memiliki budaya dan nilai-nilai yang dijaga dan diteruskan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. 
kita harus bersikap peduli dan tidak apatis terhadap kebudayaan Indonesia, karena itulah ciri khas bangsa Indonesia yg tidak dimiliki bangsa lain.


BAB  III
PENUTUP
1. Kesimpulan
            Budaya atau Kebudayaan adalah ciri khas yang terdapapat didalam suatu negara ataupun didalam suatu daerah. Kebudayaan juga termasuk suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Akan tetapi banyak kondisi kebudayaan Indonesia yg hampir punah, oleh sebab itu tugas kita lah untuk menjaganya.
2. Saran
Jadilah orang yang peduli terhadap kebudayaan bangsa. Salah satunya dengan cara mempelajari  kebudayaan daerah sendiri. Dengan mengikuti dan mempelajari budaya bangsa, seiring dengan berjalannya waktu, akan muncul rasa mencintai. Pada akhirnya, akan timbul keinginan untuk mengembangkan dan melestarikann
3.Daftar Pustaka